Announcement

Selamat datang di AOI Casket!
Sebuah tempat di mana anime dilihat dengan antusias, ditelaah dengan seksama, dan kemudian dinilai dengan serius.
Untuk berita-berita anime terbaru, kunjungi AOI Corner.

Blog ini masih terus dalam pengembangan untuk melengkapi koleksi animenya.

Sabtu, 15 April 2017

SANGATSU NO LION

- Judul: 3月のライオン (Sangatsu no Lion)
- Judul Alternatif: March Comes In Like a Lion;
- Tipe: TV (Oktober 2016)
- Genre: Drama; Comedy;
- Episode: 22
- Rating: Relatively Safe
- Sinopsis:
Bagi Kiriyama Rei, setiap hari terasa menyesakkan bagai harus bernapas di dalam air. Setelah keluarga kandungnya tewas dalam suatu kecelakaan, dan keluarga angkatnya berantakan karena kehadiran dirinya, Rei kini mesti tinggal seorang diri di sebuah apartemen kosong. Dia berprofesi sebagai pemain Shougi profesional, tetapi semua pertandingannya tidak lebih dari pekerjaan rutin agar dia bisa terus memperoleh penghasilan. Syukurlah, pada suatu hari Rei kemudian bertemu dengan tiga gadis kakak-beradik Kawamoto Akari, Hinata, serta Momo, dan berkat kebaikan hati mereka yang memperlakukannya seperti keluarga, hari-hari Rei pun perlahan terlihat lebih terang.

Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Anime ini sebenarnya merupakan gabungan sempurna antara komedi dan drama pendek yang dikumpulkan dari beberapa orang tokoh sekaligus. Dia berhasil menjaga keseimbangan antara tingkah laku mereka jenaka dengan kisah perjuangan mereka saat menjalani hidup sehingga setiap tokoh selalu punya kemampuan untuk menyajikan kedua sisi cerita tersebut. Namun sayangnya, kecenderungan anime ini untuk terus membawa semua drama tadi kembali ke dalam sudut pandang Rei juga kemudian menjadikan ceritanya terkadang terasa agak terlalu berat. Seolah segala beban kehidupan mendadak terpusat hanya pada satu titik, anime ini seringkali akan tampak seperti kisah melelahkan tentang seorang pemuda yang tidak pernah berhenti menyesali nasib dan mengasihani dirinya sendiri. Bahkan, arah dan bentuk kisah Rei sebagai sang tokoh utama pun akhirnya lama-kelamaan menjadi kabur, sebab masalah hidupnya seakan dipicu oleh apapun yang dia alami atau siapapun yang dia temui. Rei bagaikan sehelai daun yang hanya bereaksi mengikuti aliran emosi dari para tokoh yang lain -- hatinya terasa sesak jika mereka bersedih, lalu segera berubah riang jika mereka juga bergembira. Tidak lagi jelas tujuan apa yang ingin dia capai atau motivasi apa yang mendorongnya untuk bergerak maju, maka meski anime ini memang dapat dikatakan cukup pandai dalam menulis beberapa drama pendek, dia belum menunjukkan tingkat keterampilan yang sama untuk satu cerita yang berdurasi lebih panjang.

- Audio Visual (Animasi, Dialog, Voice-Acting, dll):
Secara keseluruhan kualitas visual anime ini sangat bagus. Hanya saja, pada beberapa momen dia masih menggambarkan kisah dramanya dengan sedikit terlalu berlebihan. Dan sebagaimana seseorang yang memaksa untuk membesar-besarkan sesuatu yang sesungguhnya sangat sederhana, anime ini bahkan bisa terasa cukup membosankan ketika dia sengaja berlarut-larut dalam menjelaskan hal yang sudah dapat langsung penonton pahami sedari awal.
Demikian pula untuk bagian audio, meski voice-acting di anime ini pada umumnya sangat baik, keputusan untuk juga menyuarakan sound effects pada komedinya bukanlah yang paling tepat. Penyuaraan semacam ini biasanya memang terdengar jenaka, seperti bunyi "Jiiii~" yang menyertai tatapan seorang tokoh, tetapi mungkin karena anime ini melakukannya terlalu sering, nilai kejenakaan tadi akhirnya jauh berkurang, terlebih apabila dia kemudian sampai mengganggu penonton dari menyimak dialog para tokohnya.

- Tokoh/Karakter:
Jika dilihat dari satu sisi, anime ini sangat cermat dalam menempatkan tokoh-tokoh di sekeliling Rei untuk membantu agar kisah tentang perkembangan dirinya sebagai individu dapat berjalan lancar. Selain bahwa mereka adalah orang-orang yang secara alami akan muncul di dekat Rei dan kemudian menjalin hubungan dengannya, setiap tokoh juga diatur untuk memberi pengaruh yang berbeda kepada Rei, seperti kakak-beradik Kawamoto yang mengingatkannya kembali pada kehangatan mempunyai keluarga, atau Nikaidou yang mendorongnya agar memiliki ambisi dalam bermain Shougi. Namun sayangnya, kecermatan ini pada akhirnya hanya terasa seperti tersia-siakan, sebab perkembangan diri Rei tidak pernah bertahan lama, maka pengaruh dari tokoh-tokoh tersebut pun seolah tidak pernah benar-benar nyata. Ya, Rei memang selalu mengambil pelajaran dari mereka, tetapi setiap pelajaran tampak terpisah satu dari yang lain, bukan menjadi bagian dalam suatu rangkaian yang berkesinambungan. Alhasil, daripada berjalan maju selangkah demi selangkah, Rei justru terkesan cuma seperti bergerak maju-mundur dan terus mengulang langkah yang sama. Dia hanya akan belajar tentang sesuatu, membuatnya terdengar dramatis, lalu membiarkannya berlalu untuk segera belajar tentang sesuatu yang lain lagi. Yang bahkan lebih patut disesalkan lagi, fungsi para tokoh tersebut tampaknya sudah terlanjur difokuskan sebatas menjadi pendukung bagi Rei, maka meski sebenarnya menyimpan potensi drama dan komedi sendiri yang cukup besar, mereka tidak pernah mampu keluar dari balik bayang-bayang Rei.

- Overall Score:
Barangkali anime ini terlalu memaksa untuk menjadikan Rei sang tokoh utama, sebab pada kenyataannya dia belum mampu menulis jalan cerita atau pun perkembangan karakternya dengan baik. Meski anda masih bisa menangkap arah yang ingin dituju oleh anime ini, yang justru tampak hanyalah seorang pemuda yang seolah tidak bergerak ke mana pun. Padahal, para tokohnya yang lain berhasil menciptakan kumpulan drama dan komedi yang sangat menghibur, maka seandainya Rei dibiarkan membaur cuma menjadi salah satu di antara mereka, anime ini tentu akan menjadi jauh lebih menarik. Skor 8 dari 10 (Great comedy, and generally good drama)


DVD/Blu-ray:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar