Announcement

Selamat datang di AOI Casket!
Sebuah tempat di mana anime dilihat dengan antusias, ditelaah dengan seksama, dan kemudian dinilai dengan serius.
Untuk berita-berita anime terbaru, kunjungi AOI Corner.

Blog ini masih terus dalam pengembangan untuk melengkapi koleksi animenya.

Jumat, 27 April 2018

SLOW START

- Judul: スロウスタート (Slow Start)
- Judul Alternatif: -
- Tipe: TV (Januari 2018)
- Genre: Slice of Life; Comedy;
- Episode: 12
- Rating: Strong Eroticism (Occasional Nudity)
- Sinopsis:
Mendadak sakit tepat saat akan mengikuti ujian masuk, Ichinose Hana akhirnya tidak bisa segera melanjutkan sekolah. Dia begitu malu hingga sempat merasa putus asa, namun setelah pindah ke kota lain dan tinggal bersama sepupunya, Hana perlahan membangun rasa percaya dirinya kembali. Dan ketika kemudian berteman baik dengan Momochi Tamate, Tokura Eiko, dan Sengoku Kamuri, Hana pun sedikit demi sedikit mampu melupakan bahwa dia sebenarnya memulai satu tahun lebih lambat daripada murid-murid lain di sekolahnya.



Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Keseluruhan cerita anime ini bisa segera disimpulkan sebagai kehidupan sehari-hari yang menyenangkan dari beberapa orang gadis. Namun, tentu saja, ini tidak secara otomatis berarti bahwa kehidupan mereka tersebut juga menyenangkan untuk ditonton. Semuanya mungkin bergantung pada seberapa jauh penonton bisa merasa senang dengan hanya menyaksikan sekelompok gadis yang menghabiskan waktu bersama. Sebab, jika mencari bentuk hiburan yang lain, penonton akan kesulitan menemukannya di sini. Kisah pribadi para tokohnya bukan kondisi unik yang seketika terasa menarik untuk diikuti, bahkan termasuk status Hana sebagai Rounin yang terlambat setahun. Dan meski mereka sesekali punya atribut atau kebiasaan yang jenaka, seperti kemampuan olahraga Hana yang luar biasa rendah, komedi di anime ini merupakan barang berharga yang sangat langka. Lebih sering penonton benar-benar hanya akan mendapati para tokohnya bermain-main dan bercengkerama tentang sejumlah topik dan dalam berbagai situasi, maka kecuali penonton mampu melihat hal sederhana tersebut sebagai suatu hiburan tersendiri, sebagian besar anime ini tentu akan terkesan hampa.

- Audio Visual (Animasi, Dialog, Voice-Acting, dll):
Selain animasi gerakan para tokohnya yang terlihat halus, visual anime ini juga tampaknya sangat pandai dalam menyajikan komedi. Namun, justru oleh karena itu pula, rasanya sungguh patut disayangkan bahwa anime ini ternyata tidak menaruh lebih banyak perhatian pada bagian komedinya. Padahal dia sempat menunjukkan kemampuan hebat dalam membuat suatu situasi terasa lucu cukup melalui gambar dan tanpa harus menunggu suatu lelucon muncul dari cerita atau tokoh-tokoh tertentu, tetapi karena anime ini kemudian sengaja memilih untuk hanya menampilkan sisi drama pertemanan dari kegiatan sehari-hari para tokohnya, potensi komedi yang besar ini pun akhirnya tersia-siakan.

- Tokoh/Karakter:
Mengikuti kisah pribadi mereka yang biasa-biasa saja, kepribadian para tokoh di anime ini juga tidak punya keunikan tertentu yang mampu menjadikan tingkah laku mereka menghibur. Hal ini mungkin disebabkan karena anime ini memang sejak awal tidak pandai menciptakan karakter yang akan segera terlihat mencolok, atau mungkin juga karena dia cuma tidak tahu bagaimana mewujudkan karakter tokoh yang dia inginkan melalui aksi-aksi tokoh tersebut. Tokoh Tamate, misalnya, meski tampaknya dia semula dipersiapkan sebagai gadis trouble-maker yang hiperaktif, seolah anime ini khawatir kalau hubungan para tokohnya lalu menjadi kurang 'damai', pada akhirnya Tamate ternyata tidak pernah menimbulkan masalah satu kali pun. Alhasil, setelah dua episode, Tamate cuma menjadi gadis yang banyak bergerak tetapi sesungguhnya tidak pernah melakukan apa-apa. Dan jika bahkan gadis yang paling aktif di antara mereka tidak sanggup memicu kejadian menarik, kisah kehidupan sehari-hari para tokoh di anime ini benar-benar hanyalah merupakan kumpulan kegiatan sederhana yang sudah lazim dari sekelompok gadis biasa. .... Having said that, ironisnya, walau mungkin hanya secara kebetulan, kesederhanaan para tokoh di anime ini justru membuka jalan bagi komedinya. Seperti yang sudah sempat disebutkan, komedi anime ini berasal dari atribut jenaka pada masing-masing tokohnya, dan karena karakter dasar mereka belum dibatasi oleh banyak sifat unik, laksana melukis pada kanvas yang masih kosong, anime ini dapat dengan cukup bebas memasukkan atribut baru apapun yang dia kehendaki. Dan terlepas dari apakah komedi anime ini kemudian efektif atau tidak, fleksibilitas itu sendiri mengisyaratkan bahwa akan ada sesuatu yang segar muncul di setiap episodenya.

- Overall Score:
Bagaimana seandainya anda harus menunda masuk sekolah sampai tahun berikutnya? Jika berdasarkan anime ini, anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Meski Hana selalu terlihat was-was, pada kenyataannya dia tetap bisa menghabiskan waktu dengan tenang bersama teman-temannya dan menjalani kehidupan normal tanpa pernah diganggu oleh kejadian yang macam-macam -- tidak ada krisis yang menegangkan, tidak ada drama yang menggugah emosi, dan tidak pula banyak kejutan dari tokoh-tokoh yang tak terduga. Memang, orang lain yang menyaksikan kisah anda mungkin akan mendapatinya terlalu datar dan tidak menarik sehingga hanya memberi skor 7 dari 10, tetapi selama bukan anda yang sedang menonton, anda juga tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. (Steady at best)


DVD/Blu-ray:

Goods:
- Tote Bag: Kamuri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar