Announcement

Selamat datang di AOI Casket!
Sebuah tempat di mana anime dilihat dengan antusias, ditelaah dengan seksama, dan kemudian dinilai dengan serius.
Untuk berita-berita anime terbaru, kunjungi AOI Corner.

Blog ini masih terus dalam pengembangan untuk melengkapi koleksi animenya.

Jumat, 27 Februari 2015

YUUKI YUUNA WA YUUSHA DE ARU

- Judul: 結城友奈は勇者である (Yuuki Yuuna wa Yuusha de aru)
- Judul Alternatif: Yuki Yuna is a Hero;
- Tipe: TV (Oktober 2014)
- Genre: Action; Supernatural;
- Episode: 12
- Rating: Mild Violence and Strong Eroticism (Occasional Nudity)
- Sinopsis:
Yuuki Yuuna tidak pernah menyangka bahwa klub Yuushabu di mana dia bergabung sesungguhnya adalah tempat untuk mengumpulkan gadis-gadis yang berpotensi menjadi Yuusha atau pahlawan. Ketika virus Vertex mulai menyerang, dia dan para anggota Yuushabu lainnya pun kemudian terpilih oleh dewa Shinjuu-sama dan diberikan kekuatan untuk bertempur melawan makhluk yang hendak menghancurkan dunia mereka tersebut. Menerimanya sebagai tugas mulia, Yuuna selalu bertarung dengan sekuat tenaga, sampai akhirnya dia menyadari bahwa ternyata ada harga yang sangat mahal yang mesti mereka bayar setiap kali menggunakan kekuatan dari Shinjuu-sama.

Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Barangkali cerita ala mahou shoujo dengan suatu konsekuensi tragis di balik kekuatan para tokohnya tidak lagi bisa dikatakan sebagai sesuatu yang orisinil, sehingga efek kejutannya juga tidak sebesar yang diharapkan. Namun, meski demikian, anime ini masih memiliki cukup keunikan, baik pada temanya seputar alam supranatural dari Jepang tradisional maupun pada jenis konsekuensi itu sendiri, untuk menjadikan tragedi di dalam ceritanya tetap jelas terasa. Hanya saja, sayangnya, dia kemudian melakukan beberapa kesalahan. Salah satunya, dari segi storytelling, cerita anime ini berjalan terlalu lambat. Dia baru tiba pada bagian yang penting saat menjelang akhir, sedangkan episode-episode sebelumnya lebih banyak dihabiskan cuma untuk memperlihatkan para tokohnya yang bersenang-senang. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menekankan pertemanan di antara mereka dan juga nasib tragis yang menimpa mereka selanjutnya, tetapi anime ini melakukannya secara berlebihan. Meski seharusnya bisa mencapai hasil yang sama dengan cara yang lebih ringkas, dia seolah sengaja memperlambat jalan cerita hanya untuk mendapatkan jumlah episode yang dikehendaki. Kesalahan yang lain, yang mungkin lebih krusial, adalah bahwa terdapat suatu kontradiksi di dalam plotnya secara keseluruhan. Di satu sisi, tragedi anime ini berpusat pada pengorbanan para tokohnya demi memperoleh kekuatan ketika bertarung, tetapi di sisi lain, dia juga menyebutkan bahwa mereka 'dilindungi' oleh dewa sehingga tidak akan pernah tewas. Jika mustahil tewas ketika bertarung, bukankah sejak awal tidak perlu ada pengorbanan? Kesalahan-kesalahan ini pada akhirnya menghalangi anime ini mendapatkan respon maksimal dari penonton. Meski sebenarnya sangat emosional, dia nyaris tidak akan mampu menyentuh hati siapapun.

- Audio Visual (Art, Animasi, Voice Acting, dll):
Visual anime ini jelas merupakan salah satu yang terbaik. Bukan hanya tingkat perhatian yang tinggi terhadap detil menghasilkan gerakan yang halus dan lancar, penggabungan antara animasi 2D, CG, dan gambar latar juga benar-benar luar biasa. Ketiganya menyatu dengan begitu sempurna hingga sulit membayangkan bahwa mereka pada awalnya terpisah. .... Namun, pada bagian audio, para tokoh anime ini, khususnya Yuuna dan Karin, terkesan dipaksakan selalu berteriak, bahkan bagi sebuah cerita yang penuh dengan adegan-adegan aksi. Masalahnya bukan terletak pada frekuensi, melainkan karena mereka terus meneriakkan ucapan-ucapan yang rasanya tidak perlu diteriakkan dan pada saat-saat yang tidak perlu pula. Meski dimaksudkan untuk menunjukkan semangat mereka, bukankah seharusnya seruan-seruan singkat sudah cukup? Mengapa mereka mesti mengucapkan satu kalimat utuh tepat ketika sedang memukul lawan mereka?

- Karakter:
Vertex datang untuk menghancurkan dunia mereka, dan mereka bertempur dengan mempertaruhkan nyawa ... tetapi para tokoh di anime ini hanya terus tertawa riang. Sebagaimana yang dikatakan oleh tokoh Karin sendiri, mereka tidak menunjukkan cukup rasa khawatir dan takut yang mewakili besarnya ancaman yang sedang mereka hadapi. Apakah Vertex memang merupakan lawan berbahaya? Apakah gadis-gadis itu benar-benar mempertaruhkan nyawa? Sama sekali tidak terasa demikian. Bagaimanapun anime ini berusaha untuk mengesankan yang sebaliknya, pertempuran melawan Vertex pada akhirnya lebih terasa hanya seperti salah satu kegiatan rutin dari Yuushabu. Sebab meski gadis-gadis itu mungkin bisa terlihat serius ketika sedang bertarung, hasilnya tidak meninggalkan dampak apapun ketika pertarungan tersebut usai dan mereka telah kembali ke kehidupan sehari-hari. Every battle was a challenge, but they never became part of a bigger and life-threatening war. Belakangan para tokoh ini akhirnya mulai menunjukkan sikap yang tepat, namun hal ini muncul sangat terlambat hingga tidak lagi berarti banyak. Bahkan, setelah sebelumnya mereka memperlakukan semua masalah dengan begitu enteng, perubahan sikap yang cenderung mendadak itu sendiri pun kemudian terkesan tidak sepenuhnya tulus.

- Overall Score:
Secara visual, animasi pada aksi-aksi pertarungannya disajikan dengan kualitas tertinggi. Namun yang menjadi masalah adalah bahwa banyak dari pertarungan-pertarungan tersebut yang tidak memiliki makna di dalam cerita. Baru benar-benar berjalan saat menjelang akhir, anime ini menggunakan terlalu banyak episode hanya sebagai pengantar hingga mengaburkan semua emosi yang hendak disampaikan, baik pada pertempuran dengan Vertex yang seharusnya menakutkan maupun pada tragedi para tokohnya yang semestinya mengharukan. Berkat animasi yang menakjubkan tadi, anime ini pasti akan sangat memuaskan bagi mata anda, tetapi pada saat yang sama, bagian diri anda yang lain juga akan mendapati anime ini belum cukup bagus. Nilai 7,5 dari 10 (Obscured emotions)


DVD/Blu-ray:
Volume 1
Volume 2
Volume 3
Volume 4
Volume 5
Volume 6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar