Announcement

Selamat datang di AOI Casket!
Sebuah tempat di mana anime dilihat dengan antusias, ditelaah dengan seksama, dan kemudian dinilai dengan serius.
Untuk berita-berita anime terbaru, kunjungi AOI Corner.

Blog ini masih terus dalam pengembangan untuk melengkapi koleksi animenya.

Jumat, 02 Juni 2017

HAND SHAKERS

- Judul: ハンドシェイカー (Hand Shakers)
- Judul Alternatif: -
- Tipe: TV (Januari 2017)
- Genre: Action; Super Powers; Romance;
- Episode: 12
- Rating: Mild Violence and Strong Eroticism (Occasional Nudity)
- Sinopsis:
Ketika mengunjungi laboratorium milik Profesor Makihara, Takatsuki Tazuna merasa penasaran melihat Akutagawa Koyori yang terbaring lemah. Tiba-tiba saja, gadis itu memegang tangan Tazuna, dan mereka pun seketika menjadi salah satu Hand Shakers, yaitu sekumpulan pasangan yang saling bertarung di dimensi lain agar suatu saat dapat bertemu dewa dan mewujudkan keinginan mereka. Tazuna sendiri sebenarnya tidak mengejar keinginan tertentu, tetapi karena kekalahan mereka ternyata akan menyebabkan kematian Koyori, dia pun akhirnya harus berjuang sekuat tenaga melawan para Hand Shakers lain yang terus datang menyerang.

Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Latar belakang ceritanya tidak dipersiapkan dengan matang. Satu hal yang dapat diketahui dengan pasti tentang pertarungan Hand Shakers adalah bahwa dia dilakukan secara berpasangan, tetapi anime ini tampaknya tidak pernah memikirkan asal-usul dari semua pertarungan tersebut dan tidak merencanakan aturan-aturan yang berlaku di dalamnya selain beberapa keterangan samar, seperti bahwa suatu pertarungan boleh batal apabila kedua pihak tidak ingin bertarung. Kalau pesertanya boleh bersepakat memilih tidak bertanding, bukankah sebuah turnamen tidak akan bisa berjalan? Mengapa peserta itu sejak awal dibiarkan ikut serta di dalam turnamen? .... Lalu, jika melihat kisah Tazuna dan Koyori, penulisan jalan ceritanya pun kelihatannya tidak disusun dengan baik. Anime ini bermaksud menunjukkan bagaimana hubungan Tazuna dan Koyori memulihkan Koyori dari kondisi tubuhnya yang aneh, namun dia terlalu condong menempatkan fokusnya hanya pada proses pemulihan itu dan seolah mengabaikan bahwa kondisi Koyori terlalu aneh untuk bisa diterima oleh penonton begitu saja. Bukankah siapapun akan merasa penasaran mengapa seorang gadis akan tewas jika tangannya tidak dipegang? Karena mengesampingkan keanehan Koyori tersebut hampir sepenuhnya, anime ini bukan hanya tidak mampu menjaganya agar senantiasa tampak relevan di sepanjang cerita, dia pun akhirnya tidak pernah berhasil mengundang penonton untuk bersimpati kepada Koyori. Dia baru mengangkat kembali kondisi Koyori pada dua episode terakhir, jauh setelah sebagian besar penonton mungkin sudah terlanjur tidak lagi peduli. Dan lebih buruknya lagi, proses pemulihan yang menjadi fokusnya tadi pun ternyata disajikan dalam cara yang sangat membosankan. Dengan dialog yang bertele-tele, para tokoh anime ini terlihat lebih sering bicara omong kosong daripada melakukan sesuatu, bahkan ketika mereka sedang bertarung. Alhasil, semua adegan kemudian tampak tidak menawarkan cukup konten yang berarti, dan sekaligus terasa berdurasi lebih panjang dari yang seharusnya.

- Audio Visual (Animasi, Dialog, Voice-Acting, dll):
Tingkat perhatiannya terhadap detil sebenarnya cukup tinggi, tetapi anehnya, hal ini justru menyebabkan adegan pertarungan di anime ini tidak nyaman untuk ditonton. Barangkali alasannya adalah karena semua detil tadi digabungkan dengan sinematografi dinamis yang hanya mementingkan dinamisme itu sendiri. Atau dengan kata lain, sinematografi tersebut digunakan bukan untuk menjadikan pertarungan para tokohnya terlihat lebih seru, melainkan cuma untuk menunjukkan bahwa dia memiliki setting yang luas dan bahwa dia bisa mengambil gambar dari sudut mana pun. Alhasil, menonton anime ini adalah laksana berusaha membaca sebuah buku yang terus bergerak -- meski buku itu sesungguhnya berisi cerita yang bagus, yang tampak di hadapan penonton hanyalah begitu banyak garis dan warna yang beterbangan ke segala arah.
Pada bagian audio, pemilihan musik latar anime ini juga menunjukkan masalah serupa. Walaupun memang terdengar bagus, musik-musiknya seolah lebih ditujukan untuk dinikmati secara terpisah dan bukan untuk membantu membangun emosi atau menciptakan atmosfer di dalam cerita. Sementara itu, sebagaimana yang telah sempat disebutkan di atas, penulisan dialog di anime ini terlalu panjang dan bertele-tele. Dia memaksa para tokohnya untuk selalu mengucapkan kalimat-kalimat jenaka atau keren di setiap kesempatan, tetapi karena muncul pada waktu yang tidak tepat, semua kalimat tersebut akhirnya tidak pernah memberi efek seperti yang diharapkan. Bahkan, penambahan kalimat-kalimat yang tidak perlu semacam ini justru lebih sering hanya menyebabkan maksud awal dari dialog mereka menjadi kabur dan sulit ditangkap.

- Tokoh/Karakter:
Jika engkau melepas tangannya, dia akan tewas ...
Apakah seseorang normalnya akan langsung percaya bila diberitahu demikian? Meski dia memiliki suatu pengalaman traumatis, tindakan Tazuna untuk begitu saja menerima kenyataan bahwa dia harus terus menghabiskan waktu bersama Koyori (bahkan sampai harus mandi bersama!) tetap terasa dipaksakan dan dibesar-besarkan. Sesungguhnya, terdapat penjelasan yang akan membenarkan tindakan Tazuna tersebut, namun entah mengapa, anime ini tidak memberikannya lebih awal dan dia justru menunda hingga dua episode terakhir. Sebagai akibatnya, pada sebagian besar dari serial ini, Tazuna terlanjur terkesan berada di samping Koyori tanpa alasan yang kuat, yang menyebabkan kegigihannya untuk terus bertarung demi melindungi Koyori kemudian tampak seperti emosi yang dibuat-buat, dan begitu pula selanjutnya dengan hubungan romantis yang semestinya tumbuh di antara mereka berdua.
Mengikuti Tazuna dan Koyori, penulisan karakter para tokoh yang lain juga terasa sangat dangkal. Pertama, karena jenis cerita yang memang sengaja didesain dalam bentuk serangkaian pertarungan acak, tokoh-tokoh ini akhirnya menjadi relevan hanya selama mereka bertarung untuk memperjuangkan impian mereka. Tatkala pertarungan selesai, segala sesuatu tentang mereka pun seketika akan kehilangan makna pentingnya. Dan kedua, ketika anime ini berusaha tetap menghadirkan mereka untuk balik mendukung Tazuna dan Koyori, kedangkalan mereka malah semakin jelas terlihat dari bagaimana karakter mereka akhirnya berubah menjadi membingungkan. Bukankah beberapa saat sebelumnya mereka baru saja bertarung sengit melawan Tazuna dan Koyori, dan bahkan bersedia melukai keduanya demi mencapai tujuan mereka sendiri? Seolah-olah, di satu saat mereka punya keinginan yang teramat penting dan terlalu sulit diwujudkan kecuali melalui pertarungan antar Hand Shakers, tetapi di saat berikutnya mereka ternyata tidak begitu menganggap penting keinginan tersebut dan mereka sebenarnya tidak pernah perlu bergantung kepada pertarungan Hand Shakers.

- Overall Score:
Latar belakangnya lemah, jalan ceritanya tidak disusun dengan cermat, dan penulisan karakter para tokohnya dangkal. Anime ini hanya bisa diasumsikan bahwa dia mengabaikan bagian yang lain dan memusatkan hampir seluruh perhatiannya untuk menyajikan audio visual terhebat melalui animasi yang mendetil, sinematografi yang dinamis, serta musik latar yang indah. Namun, karena tidak diorganisasi dengan baik agar menjadi satu kesatuan yang harmonis, ketiga hal yang seharusnya menjadi keunggulan ini pun justru menimbulkan masalah tersendiri. Anime ini bagaikan sekadar mengumpulkan tiga hewan jantan terkuat di satu tempat lalu meninggalkan mereka begitu saja, maka saat ketiganya mulai saling bertarung untuk menjadi yang paling dominan, pada akhirnya dia tidak menghasilkan apapun selain kekacauan. Skor 5,5 dari 10 (Shallow and disorganised)


DVD/Blu-ray:
BD Box Volume 1
BD Box Volume 2

Goods:
- CD Ending Theme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar