Announcement

Selamat datang di AOI Casket!
Sebuah tempat di mana anime dilihat dengan antusias, ditelaah dengan seksama, dan kemudian dinilai dengan serius.
Untuk berita-berita anime terbaru, kunjungi AOI Corner.

Blog ini masih terus dalam pengembangan untuk melengkapi koleksi animenya.

Jumat, 29 Januari 2016

COMET LUCIFER

- Judul: コメット・ルシファー (Comet Lucifer)
- Judul Alternatif: -
- Tipe: TV (Oktober 2015)
- Genre: Sci-Fi; Action; Romance;
- Episode: 12
- Rating: Strong Violence and Strong Eroticism (Occasional Nudity)
- Sinopsis:
Setelah tanpa sengaja jatuh ke dalam gua bawah tanah, Sougo Amagi bertemu dengan Felia yang mendadak muncul dari batu berwarna merah. Meski sekilas terlihat seperti gadis yang biasa-biasa saja, Felia ternyata menyimpan kekuatan besar yang sangat penting bagi semua kehidupan di Planet Gift, sehingga dia kemudian terus dikejar-kejar oleh Zoneboyle dan para anak buahnya yang hendak memanfaatkan kekuatan tersebut. Sougo pun bertekad untuk selalu melindungi Felia, namun oleh karena itu dia akhirnya menempatkan nyawanya sendiri dan juga nyawa orang-orang di sekitarnya dalam bahaya.

Review:

- Cerita (Plot, Storyline, Storytelling, dll):
Terdapat sangat banyak insiden yang terjadi secara kebetulan di dalam anime ini. Sougo secara kebetulan berada di dalam tambang ketika sebuah komet secara kebetulan jatuh tepat di mana dia sedang berdiri. Sougo dan Kaon secara kebetulan jatuh ke dalam gua dan secara kebetulan mendarat tepat di tempat di mana Felia berada. Bahwa mereka terjadi secara kebetulan -- hal ini sendiri mungkin masih bisa dimaklumi, namun yang sesungguhnya menjadi masalah adalah bahwa mereka merupakan akibat dari storytelling yang ceroboh. Laju ceritanya diatur tidak menentu -- terkadang anime ini sengaja melambat sehingga para tokohnya tampak seolah tidak melakukan apapun yang berarti bahkan sampai beberapa episode, lalu pada episode berikutnya, dia tiba-tiba saja akan mengutus mereka untuk memulai petualangan besar, tanpa alasan yang lebih tegas daripada insiden-insiden kebetulan tadi. Alhasil, daripada laksana aliran sungai yang lancar untuk mengantarkan penonton melewati lekak-lekuk cerita dengan nyaman, dia justru terasa lebih seperti jeram yang sesekali berpura-pura tenang dan sesekali akan mendadak menyentak kuat. Laju yang cenderung membingungkan ini terus berlanjut hingga ke saat-saat paling akhir dari ceritanya, sehingga meski penonton kurang lebih masih akan sanggup memahami apa yang hendak disampaikan oleh anime ini, menontonnya mungkin tidak dapat dikatakan sebagai pengalaman yang menyenangkan.

- Audio Visual (Art, Animasi, Voice Acting, dll):
Gerakan para tokohnya tampak alami, dan anime ini bahkan dengan berani menantang dirinya sendiri (dan sukses melewatinya) dengan adegan-adegan yang menuntut sinkronisasi sempurna antara animasi dan gambar latar. Pada pertengahan akhir, kualitas visualnya kemudian sempat jauh menurun, namun hal ini tidak seketika menyebabkan anime ini terlihat buruk. Mungkin penurunan itu terasa mengecewakan hanya karena standar tinggi yang dia tetapkan sendiri. Dia cuma tidak bisa bertahan untuk selalu berada pada level yang sama, tetapi jika mempertimbangkan betapa tinggi level tersebut, dan bahwa pada kenyataannya dia sudah berhasil mempertahankannya selama pertengahan awal, sangat mudah untuk memaafkan sedikit kekurangan yang ada pada anime ini.

- Tokoh/Karakter:
Barangkali sebagai akibat langsung dari cerita yang penuh dengan kejadian secara kebetulan, para tokoh anime ini juga selalu bertindak secara impulsif. Mereka akan tiba-tiba memutuskan melakukan sesuatu, seperti Hajime Do Mon, yang sebelumnya dengan damai hanya mengurusi kafe miliknya, tak lama berselang mendadak telah bertempur sendirian di garis depan. Atau Gus Stewart, yang sebelumnya hanya tertarik bertarung dengan Mo-Ura dan menangkap Felia, sesaat kemudian mendadak begitu terobsesi untuk menjadikan Do Mon kembali sebagai tentara. Bukan didorong oleh suatu emosi tertentu, justru emosi mereka yang tampak selalu berubah berdasarkan apa yang mereka lakukan, sehingga semua tokoh di anime ini seolah tidak punya kepribadian yang pasti. Maka meski anime ini berusaha mengesankan bahwa mereka adalah pelaku utama dari cerita, pada kenyataannya tokoh-tokoh tersebut bagaikan boneka tak berdaya yang hanya bergerak sesuai dengan cerita. Pertarungan mereka nyaris hampa tanpa makna -- mereka bertarung hanya karena di dalam cerita mereka diharuskan bertarung, dan semua emosi yang mereka tunjukkan pun terasa hambar -- tidak mencerminkan suatu pikiran atau perasaan, tetapi hanya karena di dalam cerita mereka semestinya menunjukkan emosi tersebut.

- Overall Score:
Sougo bertemu dengan Felia, lalu Sougo menyelamatkan Felia. Cerita anime ini sesungguhnya sederhana saja, namun mungkin justru karena terlalu sederhana, anime ini kemudian tidak mampu mengaturnya dengan bijak. Ketika bermaksud menjadikannya lebih kompleks, anime ini menambahkan dengan ceroboh episode-episode yang tidak terhubung baik dengan cerita utama sehingga malah mengacaukan lajunya dan juga menyebabkan karakter para tokohnya tidak jelas. Syukurlah, anime ini sebaliknya tampak cukup berhati-hati pada bagian animasinya, maka paling tidak anda bisa yakin akan mendapatkan hiburan visual yang memuaskan. Nilai 7 dari 10 (Turbulent pacing, great visual)

1 komentar: